BALIKPAPAN - Kendati pihak Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meramalkan elnino baru akan terasa dampaknya di Kaltim pada September mendatang, namun ancaman kekeringan di Kota Minyak sudah sangat terasa. Selain cuaca yang begitu panas, pepohonan yang kering serta ancaman bahaya kebakaran, level air baku Waduk Manggar terus mengalami penurunan selama satu bulan terakhir.
“Selama satu bulan tidak ada hujan. Di kota memang hujan, tapi di waduk hampir tidak ada hujan, kalaupun turun intensitasnya sangat kecil sehingga tetap tidak mampu mengangkat level waduk,” ungkap Kabag Humas PDAM Balikpapan, Gazali Rahman di ruang kerjanya, pada Kamis (30/7).
Informasi terakhir level waduk berada di posisi 9,76 meter sementara sehari sebelumnya atau Rabu (29/7) level air baku 9,77 meter. Itu berarti dalam sehari terjadi penurunan 1 sentimeter. “Waduk Manggar mampu menampung air baku sampai level 10,3 meter, lebih dari itu airnya akan melimpas,” terang Gazali.
Berdasarkan hitungan teknis, ia menjelaskan, waduk mampu melayani kebutuhan air bersih sebanyak 75 persen dari total pelanggan PDAM Balikpapan selama 6 bulan tanpa turun hujan. Air baku waduk tidak bisa lagi digunakan jika menyentuh level 4 meter karena tingkat kualitas air bakunya sulit untuk diolah.
“Hitungan teknisnya memang 6 bulan, tapi bertahan atau tidaknya waduk tergantung pemakaian para pelanggan. Semakin boros, maka air baku untuk diolah akan semakin habis. Makanya kami imbau pelanggan untuk benar-benar berhemat,” ajak dia.
Lebih jauh ia memaparkan, tahun 2004 ketika waduk belum ditinggikan dan hanya mampu melayani kebutuhan air bersih masyarakat Balikpapan selama tiga bulan, terjadi siklus kemarau panjang lima tahunan. Kejadian itu berlangsung di saat bulan suci Ramadan sampai mendekati lebaran dimana masyarakat Balikpapan kesulitan mencari air bersih. “Jika melihat siklus lima tahunan, maka tahun 2009 ini kemarau panjang. Mudah-mudahan saja hal itu tidak terjadi, namun kami tetap meminta masyarakat untuk hemat dalam penggunaan air bersih,” ajaknya.
Di bulan Ramadan sampai lebaran, kata Gazali, pemakaian air bersih justru lebih banyak dibandingkan hari-hari normal. Hal itu bisa dilihat dengan peningkatan pembayaran rekening pelanggan bahkan sampai terjadi tunggakan. Pelanggan kebanyakan memilih membayar dobel tagihannya karena beberapa hal. “Mungkin uangnya terpakai untuk berbagai keperluan selama Ramadan dan lebaran apalagi tagihan airnya lebih besar dibandingkan saat pemakaian hari normal. Jadi selama Ramadan dan lebaran, pemakaian air memang lebih banyak,” ujar Gazali Rahman.
Masih menurut dia, Waduk Manggar merupakan penyedia air baku terbesar yakni mampu melayani pemakaian 75 persen dari total pelanggan PDAM. Sedangkan sisanya melalui sejumlah sumur air dalam dan intake Sungai Klandasan yang hanya mampu melayani sekira 20.000 pelanggan.
Disinggung kualitas air baku selama kemarau ini, Gazali Rahman mengatakan, di saat tidak turun hujan lebat kualitas air baku justru baik, makanya tidak heran jika komplain pelanggan minim. Sebaliknya di saat hujan deras turun, kualitas air baku mengalami penurunan yang berdampak pada komplain pelanggan.
Apakah itu berarti aktivitas masyarakat di sepanjang Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Manggar mempengaruhi kualitas air baku? “Ya, silakan dibuat kesimpulan sendiri. Nanti kalau kami katakan ya, ada yang meragukan karena tidak ada bukti sejauh mana aktivitas masyarakat itu berpengaruh terhadap air baku,” papar dia.
Kedepan, ia mengutarakan, Pemkot akan membangun sejumlah check dam untuk memudahkan monitoring dan pengambilan sampel di sepanjang Sub DAS Manggar. Sampel air itu akan diuji di laboratorium sehingga diketahui secara pasti kualitas air baku di sepanjang DAS. “Jadi tidak perlu lagi kita saling menyalahkan, lihat dari hasil pemeriksaan itu benarkah air baku tercemar. PDAM dalam hal ini hanyalah operator atau pengolah air baku dan mendistribusikannya ke pelanggan. Di luar itu, sebenarnya bukan wewenang kami untuk menanganinya,” pungkas Kabag Humas Gazali Rahman.(yud)
No comments:
Post a Comment